Besarnya Hajat Manusia Kepada Nabi Dan Rosul

Rasul-rasul Allah dalam kehidupan manusia memiliki peran yang sangat penting. Mereka mendapatkan wahyu dari Allah berupa syareat yang akan mengantarkan manusia kepada jalan Allah. Merekalah perantara antara Allah dan hamba-hamba-Nya dalam menyampaikan risalah.

Perlu ditekankan bahwa perantara yang dimaksud adalah perantara dalam menyampaikan risalah, bukan perantara ala sufi, qubury yang meyakini bahwa mereka adalah perantara dalam menyampaikan hajat kepada Allah.

Quburiyun, baik dari kalangan shufi atau syiah rafidhah berkeyakinan bahwa wali-wali Allah termasuk nabi dan rasul mereka mendengar dan mengetahui keadaan manusia yang masih hidup, di kubur-kubur mereka. Quburiyyun meyakini bahwa mereka mampu menjadi perantara di sisi Allah dalam permintaan, merekapun memenuhi kuburan untuk menyampaikan hajat kepada nabi dan Rasul sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam berdoa.

Sungguh tidak diragukan bahwasannya keyakinan ini adalah keyakinan kufur dan keyakinan ini sama persis seperti keyakinan musyrikin Arab yang Allah sebutkan dalam surat Az-Zumar.

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [Az-Zumar:3]

Diutusnya Nabi dan Rasul Nikmat Besar yang wajib disyukuri.

Dahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW manusia dalam masa jahiliyah. Kesyirikan menguasai muka bumi, kebejadan akhlak dan moral menjadi simbol-simbol zaman itu, pembunuhan, kedzaliman dan segala macam kerusakan bukan perkara asing, hukum rimba berlaku, tidak ada kasih sayang, tidak ada penghormatan kepada hak-hak kemanusiaan.

وإذا بشر أحدهم بالأنثى ظل وجهه مسودا وهو كظيم * يتوارى من القوم من سوء ما بشر به أيمسكه على هون أم يدسه في التراب ألا ساء ما يحكمون

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. An-Nahl: 58-59

Kemudian Allah mengutus nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin Abdillah saw menyibak kegelapan-kegelapan itu mengantarkan manusia kepada cahaya iman.

Sungguh, hajat manusia terhadap rasul sangatlah besar. Melalui rasul-rasul Allah lah jalan-jalan kebenaran terbentang lebar. Ya, nikmat diutusnya Nabi dan Rasul kepada umat manusia adalah nikmat besar yang wajib disyukuri. Allah berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (Al-Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali Imran: 164

Menjadi teranglah betapa besar kebutuhan manusia pada para Nabi dan Rasul-Nya adalah sangat primer. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan oleh hamba. Dan hajat mereka kepada risalah ini lebih di atas hajat mereka atas segala sesuatu. Risalah adalah ruh bagi alam dunia ini, cahaya dan kehidupan. Lalu bagaimana mungkin alam semesta menjadi baik jika tidak ada ruhnya, tidak ada kehidupannya dan tidak ada cahayanya.”

Sungguh telah datang ribuan nabi dan rasul kepada umat manusia hingga diutusnya nabi dan Rasul terakhir sebagai bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Artikel Terkait

1-Makna Iman Kepada Rasul menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah

2-Menghiasi Qalbu dengan Iman Kepada Rasul

Posted on Januari 14, 2013, in Aqidah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: