FAKTA PERSAUDARAAN SYIAH RAFIDHAH. YAHUDI. NASRANI

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Syiah Rafidhah, Yahudi dan Nasrani memiliki hubungan mesra dalam memerangi islam. Millah mereka satu yaitu kekufuran. Banyak qarinah, menunjukkan hubungan erat tersebut baik dulu maupun sekarang. Beberapa qarinah atau fakta tersebut kita simpulkan sbb:

Fakta 1:

Rafidah adalah hasil pemikiran Ibnu Saba, yang notabene dia adalah Agen Yahudi.

Rafidhah (syi’ah) adalah agama baru berakar dari agama Yahudi yang dibawa dan ditumbuh kembangkan Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi.  Karena Rafidhah dicetuskan Yahudi tentu hubungan keduanya sangat erat. Ketika kita tilik ajaran rafidhah, banyak ajaran-ajarannya bersumber dari Ibnu Saba Al-Yahudi.

Pertama: Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan keyakinan ke-rububiyah-an dan ke-uluhiyah-an Ali bin Abi Thalib t. Ali adalah ilah (sesembahan) dan Rabb (pengatur alam semesta). Keyakinan Ibnu Saba’ ini ada pada rafidhah.

Referensi Syi’ah sendiri yang menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ menyebarkan keyakinan kufur tersebut. Lihat sebagai bukti pada kitab rujukan mereka: Pertama:  Rijal Al-Kisysyi hal 98 cetakan Karbala, dan Kedua: Tanqihul Maqol Fi Ahwali Ar-Rijal (2/183-184) cetakan Najef 1350 H. (Dari risalah Ibnu Saba’ Haqiqoh La Khoyal karya Dr. Sa’di Al-Hasyimi.)

Kedua: Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang memunculkan akidah wasiat, yaitu keyakinan bahwa Rasulullah r telah mewasiatkan kepada Ali t untuk menjadi khalifah sepeninggal beliau. Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah, bahkan merupakan bagian penting dari aqidah rafidhah. Bukankah hal ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara agama rafidhah dengan Ibnu Saba?  Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ adalah hasil pemikiran yahudinya sebelum ia menyusup di tengah-tengah muslimin.

Buku-buku rujukan syi’ah sendiri yang menetapkan bahwa keyakinan wasiat berasal dari Abdullah bin Saba’. Al-Mamaqoni dalam bukunya Tanqih Al-Maqal (2/184) menukil ucapan Muhammad bin ‘Umar Al-Kisysyi –salah seorang tokoh rafidhah – dia berkata: “Ahlul ilmu menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ dahulu seorang Yahudi lalu masuk islam dan berwala’ kepada ‘Ali t, di masa yahudinya dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun adalah orang yang mendapat wasiat dari Musa, dimasa islamnya dia juga katakan hal semisal (yakni wasiat-pen) terhadap ‘Ali.” [1]

Ketiga: Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan keyakinan Raj’ah, yaitu keyakinan bahwasannya ‘Ali  hidup kembali di dunia sesudah wafatnya.

Keempat: Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan kebencian kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq t dan ‘Umar bin Al-Khaththab t. Dan keyakinan ini bagian terpenting dalam aqidah rafidhah.

Abu Ishaq Al-Fazari menyebutkan riwayat dengan sanadnya kepada Suwaid bin Ghafalah, bahwasannya dia mengunjungi ‘Ali t di masa kekhilafahannya. Berkata Suwaid: “Sungguh aku melewati suatu kaum yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, mereka juga menyatakan bahwa engkau menyembunyikan pula celaan pada keduanya (yakni Abu Bakr dan ‘Umar), di antara kaum itu adalah Abdullah bin Saba’ –dan dia adalah orang pertama yang menampakkan keyakinan ini- Maka berkatalah Ali: Apa urusanku dengan si hitam yang busuk ini (yakni Ibnu Saba’), Aku berlindung kepada Allah dari memendam dalam hati sesuatu pada keduanya melainkan kebaikan. Kemudian ‘Ali t membuang Ibnu Saba’ ke Madain … (Ibnu Hajar membawakan riwayat kisah ini dalam Lisanul Mizan (3/290) dengan sanad yang sahih.)

Demikian di antara pemikiran-pemikiran ibnu Saba’ yahudi yang dihembuskan di tengah kaum muslimin untuk merusak aqidah. Pemikiran tersebut benar-benar serupa dan sama dengan akidah yang ada pada  rafidhah (syi’ah) yang memang ditumbuhkan oleh Ibnu Saba’ Al-Yahudi.[2]

Untuk menyembunyikan cela ini, rafidhah berjalan bersama orientalis dalam usahanya menghilangkan jejak Ibnu Saba’ untuk kepentingan mereka.  Namun usaha rafidhah itu adalah usaha yang sia-sia. Karena keberadaan Ibnu Saba’ merupakan kesepakatan (ijma’) Ahli Hadits, ahlussunnah wal- jama’ah demikian pula kesepakatan ahli tarikh, Bahkan kitab-kitab rujukan rafidhah sendiri menetapkan keberadaan Ibnu Saba’ sebagaimana telah lalu penyebutannya.

Apakah masuk akal, jika mereka mengingkari kitab-kitab yang mereka sucikan dan agungkan? Mustahil tentunya, kecuali jika mereka telah dungu atau kehilangan akal, atau telah berubah menjadi kera sebagaimana nenek moyang mereka. Dan ini kenyataannya !!!

Fakta 2

Banyaknya Kesamaan antar Ajaran Yahudi dengan Syiah Rafidhah.

Persinggungan antara aqidah Syi’ah dan aqidah Yahudi yang kotor itu bisa dilihat dari poin-poin berikut :

  1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syi’ah mereka punya Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin (itupun hanya dalam ucapan dan tidak ada wujudnya).Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat. Adapun Al-Quran yang ada saat ini mereka katakan telah dirubah para shahabat. Dalam kitab rujukan mereka Fashlul Khithob disebutkan ayat-ayat Al-Quran yang telah mereka rubah lafadznya.
  2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, [QS. Maryam : 28],

Syi’ah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syi’ah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II/34)”

  1. Yahudi mengatakan, “kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”.Sebagaimana Allah kabarkan dalam firman-Nya:

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. [QS. Al-Baqarah : 80]

Syi’ah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi’ah” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashlul Khithab (hal.157)”

  1. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syi’ah dalam Aqidah Bada`.
  2. Yahudi beranggapan bahwa ucapan “amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syi’ah juga beranggapan yang sama.
  3. Yahudi berkata, “Allah mewajibkan kita lima puluh shalat” Begitu pula dengan Syi’ah.
  1. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam, cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syi’ah juga mengamalkan hal yang sama.
  2. Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syi’ah.
  3. Yahudi berkata “Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud”. Syi’ah berkata,” tidak layak Imamah itu melainkan pada ‘Ali dan keturunanannya”
  4. Yahudi mengakhirkan Shalat hingga bertaburnya bintang-bintang di langit. Syi’ah juga mengakhirkan Shalat sebagaimana Yahudi
  5. Yahudi mengkultuskan Ahbar (‘ulama) dan Ruhban (para pendeta) mereka sampai tingkat ibadah dan menuhankan. Syi’ah begitu pula, bersifat Ghuluw (melampaui batas) dalam mencintai para Imam mereka dan mengkultuskannya hingga di atas kelas manusia.
  6. Yahudi mengatakan Ilyas dan Finhas bin ‘Azar bin Harun akan kembali (reinkarnasi) setelah mereka bedua meninggal dunia. Syi’ah lebih seru, mereka menyuarakan kembalinya (reinkarnasinya) ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain, dan Musa bin Ja’far yang dikhayalkan itu.
  7. Yahudi tidak Shalat melainkan sendiri-sendiri, Syi’ah juga beranggapan yang sama, ini dikarenakan mereka meyakini bahwa tidak ada Shalat berjama’ah sebelum datangnya “Pemimpin ke-dua belas” yaitu Imam Mahdi.
  8. Yahudi tidak melakukan sujud sebelum menundukkan kepalanya berkalikali, mirip ruku. Syi’ah Rafidhah juga demikian.
  9. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syi’ah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
  10. Yahudi mengharamkan makan kelinci dan limpa dan jenis ikan yang disebut jariu dan marmahi. Begitu pula orang-orang Syi’ah.
  11. Yahudi tidak menghitung Talak sedikitpun melainkan pada setiap Haid. Begitu pula Syi’ah.
  12. Yahudi dalam syari’at Ya’qub membolehkan nikah dengan dua orang wanita yang bersaudara sekaligus. Syi’ah juga membolehkan penggabungan (dalam akad nikah) antara seorang wanita dengan bibinya.
  13. Yahudi tidak menggali liang lahad untuk jenazah mereka. Syi’ah Rafidhah juga demikia.
  14. Yahudi memasukkan tanah basah bersama-sama jenazah mereka dalam kain kafannya demikian juga Syi’ah Rafidhah.
  15. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syi’ah Rafidhah mengatakan,”tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang. [kitab Badzl Al-Majhud fi Itsbat Musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud , oleh Abdullah Aljamili]

Fakta 3

Sejarah Membuktikan Hubungan Mesra antara Syiah dan Nashrani.

Hubungan mesra antara syiah dan nasrani dapat kita lihat dalam sejarah bagaimana mereka bekerjasama dengan nasrani untuk meruntuhkan daulah islamiyah. Lihat sebagai missal runtuhnya daulah Abbasiyah dan perlawanan terhadap daulah Utsmaniyah. Sejarah penghianatan mereka dapat dilihat kembali pada pembahasan yang telah lalu.

 

Fakta 4

Kerjasama erat Iran dan Yahudi

Sepintas Iran adalah Negara pemberani yang dengan vocal menentang Amerika dan Israel. Namunkenyataan sesungguhnya itu adalah sandiwara (dusta dan taqiyyah) ketika mereka berbicara di hadapan muslimin dunia mereka mengatakan: Kami bersama kalian. Namun ketika mereka bersama setan-setan mereka syiahpun berkata: Kami hanya mengolok-olok. Shifat ini seperti Allah kabarkan dalam Al-Quran:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. Al-Baqarah: 14

Jika memang mereka musuh Yahudi, Amerika dan Israel, pernahkah dalam sejarah baik dulu atau sekarang adanya peperangan antara Syiah dan Yahudi ? Syiah dengan Nasrani? Bukan perang mulut atau perang urat syaraf namun perang tanding secara jantan “adu Arep” kata orang jawa. Demi Allah tidak ada sejarahnya. Justru sebaliknya mereka membantai kaum muslimin (sunni). Wahai Rafidhah, berapa banyak kalian bantai muslimin di Iran, Irak, Suriya, Libanon dan tempat-tempat lainnya? Mana senjata nullir kalian dijatuhkan kepada Amerika atau Israel ?

Dalam perang teluk, Iranlah yang membuka laut Persia untuk masuknya kapal induk Amerika. Merekalah yang turut mendatangkan Amerika dan sekutunya ke Irak. Mereka menambah kekuatan bersamanya untuk menyembelih kaum muslimin. Seusai perang teluk Syiah memiliki posisi kuat Irak.

Fakta lain, kita dapatkan Negara Iran ternyata pemukiman bagi kaum Yahudi, dengan populasi yang sangat besar sekitar 25.000 yahudi. Teheran sebagai ibukota Iran banyak rumah-rumah ibadah yahudi bangun. namun masjid-masjid sunny tidak satupun tampak. Manakah yang digembar-gemborkan Khomaini dalam revolusinya membela islam dan memerangi “setan besar” Amerika? Ternyata bualan dan omong kosong.

Kalau dicermati sesungguhnya Revolusai Iran ala Khomeini adalah manuver Yahudi untuk lebih menyebarkan syiah ke Negara-negara islam. Cita-cita pun mulai terwujud dengan menguatnya pengaruh dan inviltrasi syiah ke beberapa negeri: Libanon, Syuria, Yaman, Libiya keributan kekacauan terus berlangsung. Amerika duduk manis membiarkan sekutunya –iran- membantai ahlus sunnah, satu persatu.

Dalam perang di Afghanistan, sebagai negara tetangga Syiah Rafidlah Iran tidak ikut serta bersama kaum muslimin sedikitpun!!! Tidak di dalam Afghanistan tidak pula di luarnya.Tatkala Amerika datang ke Afghanistan untuk menjatuhkan kekuasaan Taliban, mereka justru menjadi tameng terkuat bersama Amerika dalam memerangi kaum muslimin.


[1] Dinukil dari ta’liq Muhibudin Al-Khathib atas kitab Al-Muntaqa Min Minhajil I’tidal hal: 318

[2] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan banyak sisi-sisi persamaan syi’ah rafidhah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, menukil ucapan ‘Amir bin Syarahil As-Sya’bi rahimahullah.

About salafartikel

bismillah

Posted on Maret 7, 2014, in Aqidah, Sekte-Aliran-Bid'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: